August 22

Just Jokes

Posted by admin . Filed under Daily Notes |

Minum Kopi
Hance : Aku kalau minum kopi tidak bisa tidur.
Yoshi : Kalau aku malah sebaliknya, kalau tidak minum kopi tidak bisa
tidur.
Nyong : Kalau aku lebih parah lagi, kalau sudah tidur tidak bisa minum
kopi.

Anjing Pintar
Istri : pa, sekarang anjing kita makin pintar aja deh, Pa! Dia membawakan
koran baru setiap pagi
Suami : Itu sih biasa aja.. Banyak anjing yang bisa seperti itu.
Istri : Tapi kita kan tidak pernah langganan koran Pa!

Obat Panas
Seorang dokter melihat pasiennya yang sedang membuat
kopi, kemudian memasukkan sebutir obat ke dalamnya.
Dengan penasaran dokter bertanya kepada si pasien.
Dokter : “Obat apa yang kamu masukan ke kopimu?”
Pasien : “Obat penurun panas, biar kopinya cepat dingin.”

Penjual Gado-Gado
Suatu hari sebuah kereta api melaju dengan kencang hendak melewati
perkampungan. Di perkampungan itu ada seorang ibu penjual gado-gado
selesai mencuci serbetnya (kain lapnya) yang berwarna merah. Selesai
mencuci dia mengibaskan serbet tersebut untuk dijemur di pagar pembatas
antara rel kereta dengan kampung.
Dari kejauhan, sang masinis kereta melihat si ibu dengan kain lap yang
berwarna merah yang dikebas-kebaskan. . Masinis menjadi menyangka ibu itu
memberi tanda bahaya. Dengan khawatir masinis segera mengerem keretanya
secara mendadak hingga menyebabkan para penumpang kereta terjungkal.
Lalu masinis bertanya pada ibu tersebut, ” Ada apa, Bu!”
Si ibu penjual gado-gado pun menjawab dengan ringan, “Hampir habis, Pak.
Tinggal kacang panjang dan kangkung doang!”

Pemakaman Sang Istri
Kebaktian dukacita, untuk mengenang seorang istri yang baru saja
meninggal, baru saja selesai.. Lalu beberapa orang diminta menggotong
peti jenasah itu menuju ke pekuburan. Tapi saat hendak keluar dari
gereja, tanpa disengaja, peti itu menyenggol tembok & jatuh terbanting
dgn keras. Para tamu terkejut semuanya, karena mereka mendengar erangan
dari dalam peti jenasah itu. Ternyata sang wanita masih hidup dan
bertahan hingga sepuluh tahun lamanya. Akhirnya sepuluh tahun kemudian
sang istri meninggal lagi.
Kebaktian dukacita berlangsung di gereja yang sama. Saat selesai
kebaktian, peti itu hendak digotong ke luar gereja dan menuju pemakaman.
Sambil menangis, si suami ber-teriak², “AWAS TEMBOK! AWAS TEMBOK!”

Sari….
Suatu malam polisi merazia bencong-bencong di Taman Lawang. Mereka
diangkut ke truk polisi dan selanjutnya diinterogasi di Polsek.
Polisi: “Siapa nama kamu???!!!”
Bencong (gugup): “Sss…ari, Pak…”
Polisi: “Yang bener kamu…jangan boong!!!!”
Bencong: “Iya…Pak.. . bener kok Ssarii…gak boong…”
Polisi: “Bohong!!!! Pasti bohong!!! Kalo bohong mati lu…”
Bencong (mengeluarkan suara aslinya): “Sari…pudin, Pak!”

Tukang Kue Error
Seorang dokter memesan sebuah kue ulang tahun untuk istrinya.
“Apa tulisan yang harus saya tulis di kue ulang tahun ini, Pak?”
tanya si tukang kue.
“Mmmm, tulis aja “Kamu tidak bertambah tua” di bagian atas, kemudian
sambung dengan “Kamu cuma bertambah cantik” di bagian bawah,” kata
dokter.
Dan ketika kue ulang tahun itu tiba di depan istri dan tamu-tamu
undangan lainnya, si dokter langsung semaput ketika membaca tulisan
yang tertera di kue itu:
“KAMU TIDAK BERTAMBAH TUA DI BAGIAN ATAS
KAMU CUMA BERTAMBAH CANTIK DI BAGIAN BAWAH.”

Bindeng
Suatu hari Nyong sedang dalam perjalanan dari Cinere ke Pondok Labu
dengan menumpang sebuah angkot, dan kebetulan saya duduk disebelah sopir.
Setelah sampai di depan Mal Cinere, ada seorang pemuda minta diturunkan,
kemudian pemuda itu hendak membayar ongkosnya. Si pemuda itu bertanya
kepada sopir di sebelah saya, namun rupanya si pemuda itu suaranya
bindeng.
Pemuda : hang ! heraha onghosha ? ( Bang ! berapa ongkosnya ? )
Namun sopir di sebelah saya itu diam saja.
Pemuda : hang ! heraha onghosha ? hihanya hok hiem aha, huhek huping huha? (Bang ! berapa ongkosnya ? ditanya kok

diem aja, budek kuping lu ya ? )
Sopir tetap diam.
Pemuda : he hrengsek ! hihanya hiem aha ! uhah hih hepek aha !
(Ye brengsek ! ditanya diem aja ! udah nih cepek aja! )
Setelah menerima uang cepek ( Rp 100 ) itu, si sopir segera menjalankan
angkotnya lagi. Lalu Si Nyong bertanya pada sopir, “Bang, kenapa sih tadi
ditanya sama orang itu, kog nggak jawab ?”
Lalu si sopir menjawab, “Hua hih hukannya hak hau hawab ! hari hada hua
hikira heledek, hendingan hua hugi hepek !” (Gua sih bukannya nggak mau
jawab! dari pada gua dikira ngeledek, mendingan gua rugi cepek !”).
Rupanya si sopir juga bindeng…

Turis
Dua orang turis dari Amerika masuk ke sebuah restoran Cina di Glodok.
Ketika melihat semangkuk sambal di atas meja, seorang dari mereka
berkata, “Makanan apa ini?”
“Kelihatannya enak benar,” temannya menyambung.
Tanpa ragu-ragu si turis yang pertama tadi mengambil sesendok sambal dan
dilahapnya sekaligus. Tentu saja mendadak airmatanya berleleran.
“Kenapa kamu menangis?” tanya temannya.
“Ah, tidak apa-apa,” jawabnya kalem. “Saya cuma sedang teringat akan ayah
saya yang barusan meninggal. Makanan ini sungguh enak.”
Tanpa ragu-ragu pula temannya tersebut mencoba sesendok sambal. Sebentar
kemudian airmatanya pun berleleran pula.
“Kenapa kamu menangis?” tanya si turis pertama.
“Ah, tidak apa-apa. Saya cuma menyesal kenapa kamu tidak ikut meninggal
bersama ayahmu saja!!”
Ban Kempes
Tanpa disengaja seorang sekretaris melihat ritsluiting celana Bos-nya
terbuka sewaktu pagi-pagi ia masuk kantor. Dengan sedikit malu ia
berkata, “Bapak, sewaktu berangkat tadi dari rumah, apakah pintu garasi
Bapak lupa ditutup kembali?”
Si Bos tidak menangkap maksud sekretarisnya. Dia baru tahu setiba pulang
ketika istrinya menegurnya untuk hal yang sama. Esok harinya si Bos
tersebut memanggil sang sekretaris ke ruang kerjanya.
“Lisa, kemarin ketika kau melihat pintu garasiku terbuka, adakah kau
lihat
BMW-ku merah muda berhidung panjang?”
“Tidak pak, melainkan sebuah Honda mini abu-abu dan kedua ban depannya
yang kempes!”
A Sho Athu Osyi
Suatu ketika ada seorang yang bersuara sengau masuk kedai bakso.
Dia hendak memesan bakso.
Mas, a sho athu osyi (Mas, baso satu porsi)? katanya.
Sang pelayan menghampiri, ?Apa mas ??
A, sho athu osyi,? katanya mengulang.
Ah, enggak ngerti mas? katanya sambil berlalu.
Orang ini kecewa lalu berlari pulang. Dia menulis dikertas ?Bakso satu
porsi.? Kemudian dia belajar mengucapkannya berkali2.
A sho athu osyi; asho athu osyi; asho athu osyi dan terus berkali2 sampai
akhirnya dia bisa mengucapkan ?Bakso satu porsi.?
Sepanjang jalan kembali menuju kedai bakso tadi dia terus mengucapkan
bakso satu porsi; bakso satu porsi, berkali2.
Setibanya disana dia mencari tempat duduk, tiba ? tiba dia berteriak
Mas, bakso satu porsi.? Sang pelayan menghampirinya, ?Maaf, mas tadi
ngomong apa ????
Nan nani nunah (khan tadi udah)?..!!!!! !!!? (kumat lagi!!!!!)

Ambil kembaliannya
Ada sepasang suami istri yang hidup bahagia.
Karena mereka saling pengertian.. …
Disuatu saat tatkala istri lagi hamil tua (-/+ 7-8 Bulan) terjadilah
dialog…
S : Ma, papa kangen nih …… ayo…..dong
I: Ah .. papah, mama kan lagi hamil, nggak bisa dong……..
(sambil tersenyum simpul), mending jajan aja, mama nggak apa-apa kok…..
S: Beneran nih…(sedikit heran)
I : Iya… , Mamah nggak apa-apa kok.
Akhirnya suaminya pergi untuk melampiaskan keinginannya
(sambil bangga terhadap istrinya yang memberikan izin untuk jajan), mana
ada istri yang pengertian seperti itu, Ia memang istri yang baik dan
sangat pengertian (gumamnya)
Nggak lama kemudian dia balik ke rumahnya, dan istrinya lagi asyik
nontonTV.
I : Pah, kok jajannya cepet banget sih???
S : Iya….. abis mo pergi jauh males….
I: Terus jajan di mana ????
S: di tetangga sebelah. (dengan polosnya)
I: dikasih uang berapa ???
S: papah kasih 200,000
I: Gila lo ya, Kemahalan tuh……
S: Memangnya kenapa mah ???
I: Iya pah, waktu istrinya hamil tua, mamah
cuma dikasih 100,000 oleh suaminya.
Ambil gih kembaliannya??..
Lanjutan Kisah Si Nyong
Suatu sore, Si Nyong yang urakan naik bis kota . Dia duduk disamping
seorang karyawati (mungkin umurnya 25 th an, seksi, cantik). Entah karena
“kebelet pipis”, karyawati tersebut tak kuasa menahannya dan akhirnya
“beser”
(tidak banyak sih, tapi jok sebelahnya jadi basah).
Si Nyong kemudian penasaran dan bertanya :
“Maaf mbak, kok jok nya basah sih?”
“Eh maaf mas, Emm.. minyak wangi saya tumpah” jawab karyawati tersebut.
Dasar Si Nyong, dia sentuh jok basah itu kemudian menciumnya.
Lalu dengan entengnya Si Nyong pun ngomong,
“Ooo… Kalau minyak yang ini sih saya punya tutupnya, mbak”.
Akhirnya Si Nyong ditendang sama tuh cewek sampe nyungsep. Itulah
sebabnya Si Nyong terjatuh dari bis. Suk, Kasihan juga nih Si Nyong,
namanya kita catut terus, wakekok.
Tanah Rot
Pada suatu hari, sepasang turis lokal pergi berlibur ke Bali . Di sana
mereka
mengunjungi tempat-tempat wisata seperti, Ubud, Danau Batur dan Tanah
Lot. Setibanya di Tanah Lot , Pasangan itu memperdebatkan sesuatu hal
yang sepele. Si suami berkata, “Menurut papan penunjuk arah di depan sana
, tempat ini namanya Tanah Rot.”
Namun si istri membantah, “Nggak, tempat ini namanya Tanah Lot”
“Tanah Rot!” kata si suami.
“Nggak, Tanah Lot!” bantah si istri lagi.
“Tanah Rot!”
“Tanah Lot!”
“Rot!”
” Lot !”
“Rot! Rot! Rot!” balas si suami.
” Lot ! Lot ! Lot !” balas istrinya.
“Ya, udah, daripada kita ribut, nah … tuh ada orang berpakaian adat
 Bali ,
kita tanya aja orang itu. Aku yakin dia tahu banyak akan tempat-tempat
wisata di sini,” kata si suami.
Lantas si suami bertanya kepada bapak tua yang berpakaian adat Bali
tersebut. Katanya, “Pak, numpang tanya yach … tempat ini namanya Tanah
Rot atau Tanah Lot? sebab menurut papan penunjuk jalan itu, tempat ini
namanya Tanah Rot, sedangkan di peta katanya tempat ini bernama Tanah
Lot, karena menurut saya bapak ini orang Bali, jadi saya yakin kalo bapak
tahu banyak akan tempat ini. Jadi yang benar namanya apa, Pak?”
“Namanya Tanah Rot”, jawab si bapak tua.
“Tanah Rot, Pak?” Kata si suami seolah tidak percaya.
“Ya, benar,” jawabnya lagi.
Lantas si suami berkata kepada istrinya, “Tuh kan … aku bilang juga
apa.
Tanah Rot, ya, Tanah Rot!”
“Jadi bukan Tanah Lot, khan, Pak?”, katanya lagi kepada bapak tua
tersebut.
“Bukan!”
“Wah, kalo begitu terima kasih banyak ya, Pak,” kata si suami. “Kalo
bukan karena bapak, mungkin kami di sini bisa berdebat seharian penuh
mengenai hal ini. Sekali lagi terima kasih, Pak!”

“KEMBARI…, ” jawab si Bapak Tua sambil berlalu dari tempat itu.

 

Source : berbagai sumber

This entry was posted on Saturday, August 22nd, 2009 at 9:24 am and is filed under Daily Notes. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply