January 21
Guyonannya GusDur
Gus Dur dengan Bill Clinton
Suatu ketika pada waktu Gusdur menjabat sebagai Presiden RI,
beliaudiundang oleh Presiden AS Bill Clinton ke White House. Di
tengah-tengah pembicaraan muncullah seekor anjing peliharaan Bill
Clinton. Bill yang dikenal sebagai penyayang binatang itu langsung
memperkenalkan anjingnya kepada Gusdur.
Bill : Gusdur, lihatlah saya punya anjing yang sangat pintar, dia bisa
menuruti apa yang saya perintahkan.
Gusdur : Masa iya? Saya ingin tau.
Bill : Coba anda perhatikan. Sit Down! (anjing itu langsung duduk)
Bill : Stand up! (anjing itu langsung berdiri) Bill : Walk around!
(anjing itu langsung berjalan keliling-keliling)
Bill : Lihat! Hebat bukan?
Gusdur : Gitu aja kok repot. Saya yang baru ketemu saja bisa lebih baik
dari itu.
Bill keheranan mendengar jawaban Gusdur.
Bill : Boleh Anda buktikan ucapan Anda?
Gusdur : Silahkan.
Bill : Coba Anda buat dia menangis
Gusdur berbisik kepada anjing : Ssstt… ssttt…. Anjing itu langsung
menangis sedih.
Bill terheran-heran.
Bill : Sekarang coba buat dia tertawa
Gusdur berbisik kepada anjing : Ssstt… ssttt…. Anjing itu langsung
tertawa terbahak-bahak.
Bill kembali terheran-heran. Ia memikirkan cara supaya Gusdur gagal
memerintah anjingnya.
Bill : Nah… sekarang coba bikin dia supaya stress berat…
Gusdur berpikir sejenak. Lalu dia berbisik kepada anjing tersebut
Ssstt… ssttt…, sang anjing pun langsung loncat ke sana kemari
sambil teriak histeris, naik ke atas meja, ke atas lemari sampai
akhirnya dia melompat ke luar jendela dan jatuh ke tanah.
Bill Clinton kembali terheran-heran dan ia akhirnya mengakui
kehebatan Gusdur sambil bertepuk tangan.
Bill : Boleh saya tau apa yang Anda bisikkan sehingga anjing saya
menangis begitu sedih?
Gusdur : Saya bilang, kasihan Indonesia, rakyatnya banyak yang miskin,
jangankan untuk beli BBM, untuk makan sehari-hari saja mereka sangat
kesulitan. Kamu beruntung dipelihara oleh Bill Clinton, bisa makan
kapan saja kamu mau.
Bill : Oh… pantesan. Anda memang hebat. Lalu apa yang Anda bisikkan
sehingga anjing saya tertawa terbahak-bahak?
Gusdur : Saya bilang, orang Indonesia banyak yang pintar-pintar,
sehat-sehat, mereka semua lebih pantas jadi presiden ketimbang
saya. Tapi ternyata kok malah saya yang buta begini yang dipilih
menjadi presiden.
Bill : Hahahaha… Jangankan anjing, saya juga ketawa. Anda memang
jenius. Nah, lalu apa yang Anda bisikkan kepada anjing saya sehingga ia
stress berat seperti itu?
Gusdur : Saya bilang, wahai anjing, saya ingin ajak kamu tinggal di
Indonesia.
Bill : ?????????
Guyon dengan Fidel Castro
Nah, ini yang jadi guyonan Gus Dur sewaktu masih menjadi Presiden RI saat berkunjung ke Kuba dan bertemu pemimpin Kuba, Fidel Castro.
Saat itu Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap selama di Kuba. Dan mereka pun terlibat pembicaraan hangat, menjurus serius. Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan, Gus Dur pun mengeluarkan jurus andalannya, yaitu guyonan.
Beliau bercerita pada pemimpin Kuba, Fidel Castro, bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan di situ. Tahanan pertama bercerita, “Saya dipenjara karena saya anti dengan Che Guevara.” Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba.
Tahanan kedua berkata geram, “Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara!” Lalu mereka berdua terlibat perang mulut. Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya. “Kalau kamu kenapa sampai dipenjara di sini?” tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga.
Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati, “Karena saya Che Guevara…”
Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak mendengar guyonan Gus Dur tersebut. (ahm)
Gus Dur dan Sepatu Bush
Terjadilah insiden pelemparan sepatu oleh wartawan stasiun TV di Irak ke arah presiden Amerika Serikat George W. Bush. Dunia jadi geger. Semua media menyajikannya sebagai berita utama. Tokoh-tokoh dunia berkomentar.
Mayoritas memberikan dukungan kepada sang wartawan. “Lemparan penghinaan itu adalah tanggapan balik terhadap invasi Amerika ke Irak.” Dunia Arab kontan memberinya gelar pahlawan, meski belakangan wartawan ini babak belur.
Para tokoh di Indonesia pun tidak ketinggalan. Ada yang menyesalkan sikap wartawan yang emosional, tidak beretika. Namun umumnya memberikan acungan jempol kepada wartawan.
Tibalah saatnya dalam suatu forum politik para wartawan merangsek mendekati mantan presiden RI Gus Dur, meminta pendapatnya soal sepatu Bush.
“Gus Dur bagaimama pendapat anda tentang insiden pelemparan sepatu? Apakah itu termasuk bentuk kejengkelan warga Irak?”
“Apakah anda mendukung itu Gus?”
“Gus, apakah Bush pantas mendapatkan itu”
Gus Dur masih diam. Wartawan mulai tenang, menunggu kejutan.
“Ah wong nggak kena aja kog pada ribut,” kata Gus Dur sambil lalu. Wartawan pun tertawa puas.
Salah Ransel
Suatu hari ceritanya terjadilah kesepakatan rekonsiliasi atau islah antara Pak SBY, Bu Mega, Pak Habibie dan Gus Dur. Tentunya hal ini menjadi berita gembira bagi seluruh rakyat Indonesia, yang selama ini sudah bosan menyaksikan para pemimpin bangsa ini saling berseteru satu sama lain.
“Nah sekarang, supaya rakyat melihat langsung bahwa kita sudah akur ….. bagaimana kalau besok kita bersama-sama melakukan kunjungan kerja ke beberapa daerah tertinggal ….. setuju ??? ” tanya Pak SBY.
Yang lain menjawab : ” setujuuuu” ….. Gus Dur menimpali “saya sih setuju-setuju saja”.
“Kalau begitu, saya minta tolong Pak Habibie memerintahkan anak buahnya di IPTN supaya menyiapkan pesawatnya, bagaimana Pak Habibie???” Tanya Pak SBY lebih lanjut.
“Oke Pak tak ada masalah, selalu siap setiap saat” tandas Pak Habibie.
Keesokan harinya terbanglah mereka ber empat tanpa disertai pengawal, asisten ataupun ajudan….. dan hanya disertai seorang pilot pesawat. Singkat cerita mereka telah selesai melakukan kunjungan kerja ….. dan terbang kembali ke Jakarta.
Namun apa yang terjadi ….. dalam penerbangan kembali tersebut mendadak pesawat mengalami kerusakan alat kendali dan kebocoran bahan bakar.
“Wah celaka dua belas nih, pesawat ini tidak bisa dikendalikan dan pasti akan jatuh hancur” kata sang pilot dengan paniknya, “kalau begitu ….. cepat terjunkan para tokoh bangsa ini dengan ransel parasut yang ada” tambahnya. “Tapi bagaimana ya ….. parasutnya cuma ada 4, padahal semuanya ada 5 orang” tambah sang pilot kebingungan.
“aah sudahlah ….. minta pertimbangan dari para beliau sajalah” kata sang kapten sambil bergerak cepat menemui para tokoh bangsa yang sedang bercengkrama dengan akrabnya satu sama lain.
Dengan nada hati-hati sang kapten berkata “mohon maaf Bapak-bapak dan Ibu ….. karena kendali pesawat mengalami kerusakan dan pesawat pasti akan jatuh hancur …. maka dipersilakan Bapak-bapak dan Ibu berunding sendiri siapa yang akan terjun duluan dengan 4 ransel parasut yang ada ini”.
“Saya khan presiden RI, saya masih diberi amanah untuk mengurus rakyat yang sedang dihimpit berbagai kesusahan, jadi ….. ya jelas saya dulu dong yang terjun” kata Pak SBY penuh keyakinan, karena yang lainnya menyetujui, akhirnya Pak SBY lansung memasang ransel parasutnya dan ….. jleng ….. Pak SBY akhirnya terjun dengan selamat.
“Saya ini banyak ngurusin wong cilik, lagipula saya harus meneruskan perjuangan bapak saya mempertahankan kemerdekaan dengan menjadi pemimpin negeri ini, jadi ….. saya yang harus terjun selanjutnya” kata Bu Mega dengan mantap ….. karena yang lainnya manggut-manggut saja, Bu Mega langsung memasang ransel parasutnya dan ….. jleng ….. Bu Mega akhirnya terjun dengan selamat.
Setelah Bu Mega terjun, Pak Habibie mendesak agar dia yang terjun berikutnya dengan memberi alasan : “Saya khan yang menguasai Hi-Tech, bagaimana suatu bangsa akan maju tanpa menguasai hi-tech ….. bukan begitu Gus Dur ?”…. Gus Dur menjawab : “silakan saja duluan …… gitu aja kok repot”, akhirnya Pak Habibie memasang ransel parasutnya dan ….. jleng ….. akhirnya Pak Habibie terjun dengan selamat.
Kemudian ….. tanpa ba…bi…bu…Gus Dur langsung mengambil dan memasang sendiri ranselnya tanpa meminta tolong ataupun meminta persetujuan terlebih dahulu dari sang pilot, karena dipikirnya pasti dia yang akan terjun selanjutnya.
“Gus Dur ….” sang pilot memanggil sambil terkejut ….. “kenapa sih kok pake protes segala, jelas-jelas sekarang saya yang harus terjun, saya ini kyai langitan tau nggak ….. banyak para kyai dan santri se Indonesia yang harus saya urus” hardik Gus Dur.
“Tapi Gus Dur …..” sang pilot mencoba menyela, tapi Gus Dur tidak peduli selaannya ….. bahkan terus berkata :”Nggak pake tapi-tapian…. ngeyel amat sih lu ….. sudah saya terjun duluan yah” tegas Gus Dur sambil langsung ….. jleng ….. terjun.
“Gus Du…..uuur” pekik sang pilot melihat Gus Dur terjun.
Sang Pilot terduduk lemas. Setelah beberapa saat menghela napasnya, sang pilot berkomentar sendirian “Ya sudah kalau nggak mau dibilangin, tadinya saya cuma mau bilang ….. kalau ransel yang dipakainya bukan ransel parasut ….. tapi ransel baju yang saya bawa, karena maunya begitu ….. ya sudah”.
Akhirnya sang pilot memasang ransel parasut yang terakhir dan ….. jleng ….. sang pilot terjun dengan selamat. Bagaimana dengan Gusdur … ???
Pertama, guyonan yang diceritakan kembali oleh pelawak Tarzan.
Gus Dur bertanya, “Zan, kamu pernah melawak tapi tidak ada yang tertawa?”. Tarzan menjawab, “Pernah Gus”. Lalu Gus Dur berkata untuk memberikan kunci atau trik agar ketika melawak, maka para penonton akan selalu tertawa. Yakni dengan hukum Islam. Lalu Tarzan tampak kebingungan dengan saran Beliau. Lalu dijelaskanlah begini, “Diibaratkan seperti mengucapkan salam dalam Islam. Seseorang mengucapkan salam kepada saudaranya adalah sunnah. Tetapi menjawab salam adalah wajib. Jadi, kamu harus mengatakan ke penonton di awal melawak. Kalau kamu melontarkan lawakan itu adalah sunnah. Dan wajib bagi penonton untuk tertawa. He he he!”.
Kedua, guyonan yang diutarakan oleh Beliau. Pernah ditayangkan salah satu tv swasta di sebuah kesempatan wawancara.
Jadi ceritanya Beliau waktu itu sedang berdialog atau ngobrol dengan salah seorang kerabat. Di sebuah kesempatan acara. Berkatalah, “Orang yang kerja di pengurus NU sejak jam 6 pagi sampai jam 6 malam itu adalah orang yang senang NU. Sedangkan orang yang kerja untuk NU dari jam 6 sore sampai jam 12 malam itu adalah orang yang gila NU. Tapi kalau masih mengurusi NU dari jam 12 malam sampai jam 6 pagi itu adalah orang NU gila”. Lalu terdengarlah tawa yang membahana.
Ketiga, guyonan yang disampaikan Gus Dur ketika bertemu Candra Hamzah wakil ketua KPK pada saat kasus “Ci-Buaya” Bank sedang marak-maraknya.
Saat itu, konon Gus Dur sedang menemui Candra Hamzah untuk memberikan dukungan pemberantasan kasus korupsi di tanah air. Kemudian Gus Dur mengeluarkan guyonan segar. Beliau bercerita ada salah seorang anggota dewan “anyaran”, wakil rakyat yang baru saja dilantik secara resmi. Yang baru masuk ruangan sidang untuk rapat. Lalu seorang rekan dari anggota dewan “anyaran” itu tiba-tiba memanggil. Dengan sebutan “prof”. Karena tidak pernah merasa sekolah sampai mendapat gelar seperti itu, dia merasa heran dan penasaran. Karena gelar atau sebutan seperti itu terdengar sangat wah. Usut punya usut ternyata yang dimaksud bukanlah seperti itu. Yang dimaksud “prof” adalah “provokator”. He he he!